BAWASLU Kota Surakarta memiliki program
BAWASLU Goes to Pesantren yang bertujuan untuk mengajarkan pemahaman demokrasi
kepada siswa-siswi pondok pesantren yang akan melakukan pemilu perdana di 2029
mendatang. Siswa-siswi diajarkan tentang pentingnya literasi digital pada era
modern seperti sekarang ini, terutama pada pemilih generasi Z. Menurut data
yang diberikan, pemilih pada pemilu 2024 didominasi oleh pemilih generasi Z
dengan rentang usia 18-24 tahun.
“Anak-anak generasi Z rata-rata sudah
memiliki akun media sosial masing-masing. Maka dari itu, untuk menghindari
konflik digital, diperlukan adanya penyuluhan dan sosialisasi pada siswa-siswi
di sekolah. Tujuan lainnya adalah untuk menumbuhkan sikap kritis dalam
menganalisis banyaknya berita palsu yang beredar di media sosial. Agar
kedepannya, siswa-siswi bisa lebih bijak dalam menggunakan media sosial, dan
tidak memunculkan konflik-konflik baru yang memecah belah masyarakat,” tutur
Agus Sulistyo, S.E., S.H., MM., selaku pembicara dari BAWASLU Kota Surakarta.
Kemudian dilanjut Bimbingan Remaja Usia
Sekolah (BRUS) oleh KUA Laweyan yang bertujuan untuk mengajarkan pentingnya
memiliki prinsip kehidupan dimulai dari usia remaja.
”Bimbingan Remaja Usia Sekolah ini
diberikan untuk siswa setingkat SMP dan SMA, karena pemerintah kita sangat concern
dalam menyiapkan generasi muda menuju Indonesia Emas 2045. Kemudian, dalam
perkembangan remaja, selain mereka menyerap ilmu dari guru-guru, mereka punya
gambaran hidup ke depan, bagaimana menata diri, menata pergaulan dengan guru,
dengan teman, dan kemudian memahami batasan agar tidak terjerumus pada
pergaulan yang tidak baik, seperti narkoba, minuman keras, perjudian, dan
pernikahan dini,” ujar Amin Rasyadi selaku pembicara dari KUA Laweyan.
“Untuk menjadi remaja yang berkarakter
baik, lingkungan sangat mempengaruhi. Kalau di pesantren, kita belajar bukan
hanya teoritis, tetapi juga mempraktekkan langsung dalam kehidupan sehari-hari.
Ketika tinggal di pesantren, pasti diarahkan untuk memiliki karakter baik,
karena keseharian kita langsung terlihat, beda dengan sekolah di luar. Selain
itu, pasti ada pengasuh dan kyai yang selalu mendoakan kita, sehingga selain
bimbingan dari guru dan pengurus, Allah SWT akan memberikan hidayah untuk
kemudian membentuk karakter yang baik pada diri kita. Kemudian agar melatih
karakter yang bertanggung jawab, tinggal di pesantren juga menuntut kita untuk
mandiri. Kita akan bertanggung jawab terhadap diri sendiri, untuk kemudian,
seiring bertambah kedewasaan, kita akan diberikan tanggung jawab terhadap
teman-teman, melalui organisasi dan seterusnya sesuai tingkatan usia. Tanggung
jawab bukan sesuatu yang dipelajari, tapi dipupuk, dipraktekkan, berkembang
sesuai umur dan peran,” tambahnya.
Disusun oleh: Asva Dzakiya dan Nafisah
Khoirunnissa’





.jpeg)


.jpeg)
.jpeg)

.jpeg)



















.jpeg)
.jpeg)





.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
